Yesusku

Yesusku

Kamis, 25 Agustus 2011

KURANG BERDOA


Seorang maha siswa Hindu dari India menghadiri kebaktian Minggu di salah satu  gereja terkenal di California. Mahasiswa itu sangat terkesan dengan keindahan bangunan itu, lalu  berkata, “Ini sungguh-sungguh suatu bangunan yang megah, jauh lebih indah daripada banyak kuil yang kami miliki di india.”
Ia jauh lebih tercengang ketika menhetahui bahwa bangunan itu praktis digunakan hanya untuk kebaktian hari Minggu. Pada hari-hari lainnya hnaya segelintir orang datang menghadiri kebaktian di tempat itu.

Ia berkomentar, “Apakah anda bermaksud mengatakan kepadaku bahwa anda memiliki bangunan yang luas dan mahal ini, dan anda menggunakannya hanya sekalli seminggu?”
“Di India, kami pergi berdoa di kuil-kuil hindu setiap pagi ketika matahari terbit, dan setiap sore ketika metahari terbenam. Kaum muslim berdoa lima kali sehari di masjid. Bagaimana anda dapat mengharapkan kami untuk menerima Kekristenan ketika kami berdoa lebih banyak kepada dewa kami daripada yang anda lakukan kepada Tuhanmu?”

KESAKSIAN HIDUP


Ada seorang warga Amerika Serikat di minta untuk menjadi guru di salah satu perguruan tinggi di Jepang. Salah satu butir kontrak antara mahaguru asal Ameriak Serikat dan perguruan tinggi jepang itu berbunyi : “Mahaguru hanya boleh berbcara hal-hal yang menyangkut materi perkuliahan yang dipercayakan kepadanya dan sama sekali tidak boleh menggunakan satu katapun yang berhubunagn dengan kekristenan.”
Salib kehidupan
                Mahaguru tersebut menjaga dengan setia janjinya yang termuat dalam kontrak tersebut. Namun, mahaguru itu berusaha untuk hidup menurut keyakinan iman Kristiani. Ia tidak pernah berkata apa-apa tentang kekristenan, tetapi hidupnya snagt terbuka dan banyak melakukan perbuatan-perbautan kasih. Setelah bebberapa tahun ia bekerja di perguruan tinggi itu, teladan hidupnya menjadi sedemikian berpengaruh, sehingga paling kurang 40 orang dari mahasiswanya diam-diam menjadi Kristen, bahkan 25 orang dari mereka kemudian memasuki perguruan tinggi teologi dan menjadi misionaris.

DUA BERSAUDARA


Kata sahibul hikayat ada dua orang
Bersudara yang hidup bahagia dan puas,
Sampai kedua-duanya di panggil Tuhan untuk menjadi muridnya.
Yang lebih tua menanggapi panggilannya menjadi imam
Dengan suka rela, meskipun ia harus
Meningglkan orang tua serta gadis yang
Dicintainya  dan diimpikan menjadi istrinya.
Ia lalu pergi ke sebuah negri yang jauh. Di
Sana ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk
Melayani orang-orang yang sangat miskin.
Penganiyayaan timbul di negeri itu. Ia di tangkap
Disiksa dan di bunuh.
Dan tuhan berkata kepadanya :
‘baik hamba yang jujur dan setia!
Engkau memberiku pengabdian
Seharga seribu talenta. Sekarang akan
Kuberikan kepadamu semilyar,
Semilyar talenta sebagai ganjaranmu.
Masuklah dalam suka cita Tuhanmu!’

Tanggapan adiknya atas panggilan Tuhan berubah
Ia ingin melepaskan
Supaya dapat meneruskan rencanaya serta
Menikah dengan gadis yang dicintainya. Ia
Menikmati kebahagiaan hidup berkeluarga,
Usahanya berkembang pesat, ia menjadi
Terkenal dan kaya. Kadang kala ia member sedekah
Kepada pengemis, bersikap ramah
Terhadap istri dan anak-anaknya. Sesekali ia
Juga mengirim sedikit uang untuk kakaknya
Yang menjadi misionaris di negeri yang jauh. ‘uang ini
Mungkin dapat membantu karyamu di tengah orang miskin itu.’ Tulisnya di dalam surat.

Pada saat ia meninggal, Tuhan berkata
Kepadanya:
‘baik, hamba yang jujur dan setia!
Engkau memberiku pelayanan
Seharga sepuluh talenta. Sekarang
Akan kuberikan ganjaran kepadamu
Sebesar semilyar, semilyar talenta,
Masuklah ke dalam suka cita
Tuhanmu!’

Kakaknya tercengang-cengang ketika
Mendengar behwa adiknay mendapatkan
Ganjaran yang sama dengannya. Dan ia
Senang. Katanya: ‘Tuhan, setealh melihat
Semua ini, seandainya saya harus lahir dan
Hidup kembali, saya masih akan melakukan hal yang persis sama dengan yang telah saya perbuat bagiMu’.

Siapakah Yesus bagiku?


“ Yesus bagiku adalah pribadi yang unik  tak pernah secara langsung utemui, tetapi aku merasa dekat dengan-Nya. Dia menjadi penghiburku dikala sedih, menjadi teman dikala sendirian, pambawa hiburan dikala derita menindih. Bila hatiku sedang gembira, kusenandungkan nama-Nya.

“Penah aku ingin  meninggalkan-Nya, menghapus nama-Nya dari sejarah hidupku, tetapi aku tidak mampu ; suatu kali hidupku berantakan, Dia kurasa datang , menyentuh hatiku dan tiba – tiba semua jadi indah , luka hatiku sembuh , duniaku jadi cerah lagi aku kembali bergairah .’

Seandainya Dia tidak pernah membuat suatu mukjijatpun aku tetap percaya , Dia penolongku . Buktinya , ketika aku patah hati , aku merasakan penghibuara-Nya”

“Yesus , siapakah Kau bagiku? Ah, kau slalu diam saja . Tetapi mengapa pertanyaan tentangMu itu slalu membawa sesuatu kegembiraan dalam hatiku?  Yesus Kau siapa? “

 

Rabu, 24 Agustus 2011

BIARAWAN BERSUARA EMAS


Ada sebuah biara di Perancis yang snagt terkenal karena keramahtamahan dan kebaikan hati para susternya. Banyak orang datang mengunjungi biara itu untuk merasakan persaudaraan yang mendalam di sana. Suster-suster itu merasa sangat bahagia bahwa mereka dapat membahagiakan para tamunya. Namun, ada satu hal yang membuat mereka sedih, yaitu bahwa mereka tidak sanggup menyelenggarakan ibadat resmi dengan baik, karena mereka semua memiliki suara yang jelek dan tidak terlalu pandai menyanyi. Ibadat yang mereka laksanakan selalu tersendat-sendat, mazmur-mazmur yang mereka daraskan selalu terdengar sumabng, jauh dari merdu. Tetapi, mereka telah berusaha danmelaksanakannya dengan keikhlasan hati.
                Pada suatu hari. Mereka kedatangan seorang tamu biarawan yang sangat terkenal di seluruh Perancis karena memiliki suara emas dank arena kepandaiannya bernyanyi. Para suster memohon kepada biarawan yang bersuara emas itu supaya ia sudi tinggal di biara mereka selama beberapa hari untuk memimpin ibadat pagi dan ibadat sore mereka. Dengan bangga sang biarawan mengabulakn permintaan suter-suster itu. Sungguh, ia dapat memimpin ibadat pagi dan ibadat sore dengan sangat meriah. Suara emasnya mengisi seluruh ruang kapel biara, temapt ibadta itu dilaksanakan. Suster-suster sangat puas. Mereka sangat berterima kasih dan memuji kehebatan sang biarawan yang dapat menciptakan suasana yang sangat meriah dalam ibadat pagi dan sore di biara itu. Sang biarawan sendiri menjadi sangat puas dan berbangga atas kebolehannya.
                Malam harinya seorang melaikat dari surga datang kepada pemimpin biara itu dan mengeluh, “Apa yang tejadi di biara ini? Setiap pagi dan sore boasanya kami di surge mendengar nyanyian-nyanyian ibadat yang merdu dari biara ini. Tetapi beberapa hari terakhir ini, tidak lagi terdengar lagu-;agu yang merdu itu!”
Pemimpin biara dengan cepat menjawab, “Sebaliknya. Saat-saat yang lampau kami sangat kacau dan tidak snaggup menyanyi dengan baik dan merdu, suara kami jelek dan kami tidak pandai menyanyi. Beberapa hari terakhir ini, kami kedatangan seorang tamu biarawan yang terkenal karena suara emasnya. Ia dapat memimpin ibadat pagi dan sore dengan sangat indah dan meria! Luar biasa!”
Malaikat itu menjawab, “Mungkin benar, tetapi sungguh, kami di surge tidak mendengar apa-apa!”