Yesusku

Yesusku

Kamis, 01 September 2011

Santa Theresia dari Lisieux

Keluarga Theresia.
          Theresia lahir pada tanggal 2 Januari 1873 di Alencon, Perrancis.
Nama Lengkapnya Maria Fransiska Theresia Martin. Ayahnya bernama Louis Martin, seorang pembuat jam, dan ibunya bernama Zelie-Marie Guerin, seorang pembuat renda.
Kedua orang tua Theresia sangat saleh.
          Ayahnya dulu berkeinginan menjadi biarawan, namun pengetahuannya yang sangat kurang akan bahasa Latin membuatnya mengurungkan niatnya. Sementara itu, ibu Theresia juga pernah berkeinginan menjadi biarawati, manun ia ditolak karena tidak ada pekerjaan untuknya. Karena itu Zelie pernah bersumpah bahwa ia akan membimbing semua anaknya agar menjadi biarawan-biarawati. Namun, dari sembilan anaknya yang ia lahirkan, hanya lima anak yang mampu hidup hingga dewasa. Kelimanya perempuan. Mereka bernama Marie, Pauline, Leonie, Celine, dan Theresia si bungsu. Terhadap kelima anak itu, Louis Martin dan istrinya mendidik mereka secara katholik dengan sungguh-sungguh.
          Sayang pada tahun 1877, saat Theresia masih berumur empat tahun, ibunya meninggal karena kanker peyudara. Ayah dan saudara-saudra Theresia sangat sedih. Apalagi Theresia. Ia larut dalam kesedihan dalam waktu ya. ayahnyang lama.
          Kakak Theresia yang bernama Pauline terpaksa menjadi “ibu” bagi Theresia. Ia merawat dan mempehatikan perkembangan Theresia. Dan tak lama kemudian Ayah Theresia menjual usahanya lalu mengajak anak-anaknya pindah ke Lisieux, di daerah Calvados, Normandia
          Disana mereka tinggal bersama kakal laki-laki Zelie yang bernama Isidore Guerin dan istrinya. Keluarga ini mempunyai dua anak perempuan.

Dekat dengan Tuhan.
          Pada suatu senja, Theresia berjalan-jalan bersam ayahnya. Ayahnya memang sangat mengasihi Theresia. Bahkan ayahnya memberinya bermacam-macam nama panggilan, antara lain Theresia Kecil Bungsu Kecil, dan Ratu Kecil. Malam itu langit tampak terang dan bersih. Ayah Theresia bercerita sambil menunjuk beberapa bintang yang berukuran besar dan berrkelap-kelip. Dengan penuh perhatian Theresia mendengarkan kata-kata  ayahnya sambil membil memandang langit. Benar-benar indah bintang-bintang itu, batinnya.
          Tiba-tiba ia berseru, “Ayah, lihat, namaku tertulis di langit! Sepertinya Tuhan yang menulisnya.”
          Ayahnya memperhatikan langit yang ditunjuk Theresia. Lalu ayahnya tersenyum. Ternyata rangkaian bintang yang membentuk huruf seperti T.
          Dan pada suatau hari Theresia diajak kakaknya, Pauline, kepantai. Baru kali ini Theresia melihat pantai. Ia senang sekali. Mereka duduk-duduk ditepi laut sam bil memperhatikan matahari yang hendak terbenam. Sinar matahari yang berwarna jingga memantul dipermukaan sebuah kapal nelayan. Sepertinya kapal itu akan menjala ikan dilaut. Layarnya mengembang tertiup angin. Kapal itu berlayar dengan kencang. Tiba-tiba Theresia berkata, “Kakak Pauline, jiwaku seperti kapal itu. Melaju cepat kepada Tuhan.”

Sembuh Secara Ajaib.
          Tahun 1881 Theresia mulai bersekolah disekolah milik Suster-Suster Benediktin. Disekolah ia terkenaal sebagai anak yang perasa dan mudah menangis sehingga teman-temannya tidak akrab dengannya. Akibatnya, ia lebih sering menyendiri.
          Saat kakaknya yang bernama Celine menerima Komuni Pertama, Theresia juga ingin menerima komuni. Ia sedih karena harus menunggu empat tahun lagi. Waktu itu umurnya baru delapan tahun. Dahulu anak-anak baru boleh menerima komuni setelah berusia dua belas tahun.
          “Aduh, masih empat tahun lagi aku menerima komuni. Lama sekali,” keluh Theresia.
Pengetahuannya tentang Yesus, yang hadir dalam Sakramen Mahakudus sangat luas dan ia dapatkan dari buku-buku yang dibacanya.
          Meskipun masih empat tahun lagi, Theresia berusaha menyiapkan dirinya dengan bauk.
          “Meski aku masih lama menunggu, aku ingin pada saat aku menerima Komuni Pertama, jiwaku harus sebersih dan secantik malaikat,” katanya kepada Celine.
          Pada bulan Oktober 1882, kakak Theresia yang bernama Pauline masuk biara Karmelit. Theresia sedih ditinggal Pauline karena Pauline telah menjadi ibu baginya. Ketika Pauline pergi, Theresia jatuh sakit. Saat Theresia terbaring sakit, kakak-kakaknya berdoa disekeliling tempat tidurnya. Tiba-tiba, patung Bunda Maria yang ada didepan Theresia tersenyum, lalu Theresia pun sembuh. Theresia, ayah, dan kakak-kakaknya sangat gembira karena Theresia mendapatkan kesembuhan secara ajaib. Meski demikian, Theresia tetap masih perasa dan mudah menangis.

Bola Yesus.
          Pada malam Natal 1886 Theresia dan seluruh keluarganya merayakan Natal. Setelah Misa Kudus selesai, ayah Theresia menasehatinya supaya ia mengubah sifatnya yang manja, perasa dan mudah tersinggung karena ia sudah beranjak remaja. Nasehat ayanhnya dimalam natal itu begitu meresap kedalam hatinya hingga ia mulai sadar akan keburukan sikapnya selama ini. Sifat-sifat kekanak-kanakan itu harus mulai ia tinggalkan karena sudah tidak sesuai lagi dengan dirinya yang sudah remaja. Apalagi ia bercita-cita menjadi biarawati seperti Pauline.
          Dalam autobiografinya, ia menulis peristiwa ini sebagai “saat berahmat dan mengawali kehidupanku yang baru”. Bahkan ia juga mengatakan, Yesuslah yang mengubah diriku.”
          Kini Theresia mulai sadar bahwa dirinya dipenuhi oleh Roh Kudus dan ia sadar bahwa dirinya harus mengabdikan seluruh hidupnya  kepada Tuhan. Ia sangat ingin bersatu dengan Kanak-Kanak Yesus, maka kelak ketika menjadi biarawati, ia mengubah namanya menjadi Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Theresia dari Lisieux.
          Kepada Yesus  ia berjanji untuk tidak menolak apapun yang diinginkan Yesus darinya. Hal ini terungkap dari doa yang ditulisnya dalam buku autobiografinya.
          “Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainanMu! Anggap saja saya ini bolaMu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silakan. Dan jika hendak Kau tinggalkan dipojok kamar karena bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bolaMu, ah Yesus, tentu saki sekali. Namun, terjadilah kehendakMu.”

Penjahat yang Bertobat.
          Ketika Theresia berumur 12 tahun, ia boleh menyambutTubuh Kristus. Ia sangat gembira. Pada hari itu pula ia berjanji didepan kayu salib.
Yesus di kayu salib yang haus, saya akan memberikan air padaMu. Saya akan menderita sedapat mungkin agar banyak orang dosa bertobat.”
          Salah seorang pendosa pertama yang bertobat berkat doa Theresia adalah penjahat kejam yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesal.
          Saat sarapan, ayah Theresia bercakap-cakap dengan ketiga kakak Theresia. Theresia hanya mendengarkan. Seorang penjahat Pranzini dihukum mati. Penjahat itu membunuh dan merampok. Ia sangat kejam. Lagi pula ia tidak takut kepada Tuhan karena ia berani memaki dan mengusir seorang imam yang datang untuk menolongnya.
          Theresia berpikir untuk menanggung segala macam penderitaan agar penjahat itu bertobat. Dalam doanya, ia memohon, Yesus, Pranzini itu ibarat luka dikanan kiriMu. Dialah penjahat pertama yang saya doakan supata bertobat. Yesus, berilah saya kekuatan agar saya  kuat menolong para penjahat.”
          Tak henti-hentinya Theresia berdoa agar Pranzini bertobat. Setiap hari surat kabar memberitakan Pranzini. Theresia membacanya diam-diam. Ia selalu berharap Pranzini bertobat. Akan tetapi, hingga pelaksanaan hukuman, Pranzini tidak bertobat dan menyesali perbuatannya.
          Siang itu, alun-alun telah penuh. Mereka hendak menyaksikan hukuman mati Pranzini. Theresia tetap tinggal dirumah, berlutut dikamarnya untuk berdoa. Sementara itu, Pranzini telah hadir ditempat hukuman. Seorang imam berdiri didekat Pranzini. Imam itu berharap dirinya masih dapat menolong Pranzini.
          “Lima menit lagi hukumanmu akan dilaksanakan. Adakah sesuatu yang kamu inginkan?” tanya imam itu.
          Tanpa diduga Pranzini berkata, “Pater, saya ingin memegang salib yang dibawa Pater”
          Imam itu segera memberikan salib Sang Penebus. Pranzini memegangnya, lalu mengamat-amati Yesus yang tersalib. Matanya basah oleh airmata dan kepalanya tertunduk.
Lalu Pranzini mencium luka Yesus pada tangan sebelah kiri. Imam itu segera membuat tanda salib di atas kepalanya yang tertunduk. Ia tahu Pranzini telah bertobat dan menyesali perbuatannya. Atas Nama Tuhan imam itu mengampuni dosa Pranzini dan memberkatinya.
          Beberapa menit kemudian Pranzini dihukum mati. Berkat usaha Theresia, jiwa Pranzini selamat. Semua orang terharu. Alangkah baiknya Tuhan.
          Malam itu juga Theresia membaca berita disurat kabar. Judul utama koran itu “Pranzini yang Bertobat”. Tangan Theresia gemetar. Yesus telah mengabulkan permintaannya. Pranzini telah mencium luka di tangan kiri Yesus. Theresia berlutut dan mengucap syukur, Ya Yesus , hatiku sudah puas. Aku tidak akan perlu lagi melihat hasilnya kemudian karena aku yakin Bahwa Engkau akan selalu mengabulkan doaku. Aku akan  terus mengurbankan kesenangan, keinginan, tenaga dan waktuku untuk mendoakan orang-orang agar mereka bertobat. Semoga keinginanku untuk melepaskan dahagaMu bisa terwujud. Dan semoga para penjahat bertobat dan menyesali perbuatannya”

Bertemu Bapa Paus
          Saat Theresia berumur lima belas tahun, kakak sulungnya, Marie, juga masuk biara Karmelit. Dalam diri Theresia semakin kuat keinginannya menjadi Biarawati. Saat ia mengajukan  permohonan kepada kepala biara Karmelit, Theresia ditolak karena ia masih terlalu muda. Theresia pun merasa kecewa.
          Pada bulan november 1887, Theresia, Celine, dan ayah mereka berziarah ke Roma untuk menghadiri acara pertemuan umat dengan Bapa Paus Leo XIII. Theresia mencium kaki Bapa Paus dan memohon izin agar ia diperbolehkan bergabung dengan ordo Karmelit pada usia 15 tahun, dibawah batas umur yang diizinkan. Bapa Paus menasehati Theresia.
          “Anakku, segala hal akan terjadi paling baik bagimu jika kamu mau menunggu. Patuhilah keputusan kepala biara.” Kata  Bapa Paus.
          Tapi, Theresia bersikeras. Akibatnya, ia harus digotong keluar oleh dua orang pengawal Bapa Paus dan tidak mendapatkan persetujuan. Kejadian ini membuat gempar orang-orang yang menyaksikan.


Menjadi Biarawati
          Pada tanggal 9 April 1888 Theresia diterima di postulan di biara  Karmel atas perintah Uskup Bayeux. Januari 1889 ia menjadi novis  dan akhirnya pada tanggal 8 september 1890 ia diterima secara resmi menjadi anggota ordo Karmelit dan mengubah namanya menjadi Suster Theresia dari kanak-kanak Yesus. Betapa senang hati Theresia. Tak henti-hentinya Thereisa mengucap syukur kepada Tuhan.
          Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1889, ayah Theresia sakit dan harus dirawat di sanatorium selama tiga tahun. Setelah itu ayahnya kembali ke Lisieux pada tahun 1892, lalu meninggal dunia dua tahun kemudian. Setelah ayahnya meninggal, Celine, yang dulu merawat ayahnya, masuk ke biara karmelit  pada tanggal 14 september 1894.
          Dibiara itu ia bergabung dengan Pauline, Marie, dan Theresia. Pada tahun itu juga, kakak Theresia yang bernama Pauline , diangkat menjadi Kepala biara karmel. Kini nama Pauline berubah menjadi ibu Agnes. Ibu Agnes meminta Theresia menuliskan kenangannya akan masa kecilnya. Tulisan ini adalah awal mula dari buku autobiografi yang kemudian sangat terkenal. Buku ini berjudul “Kisah Satu Jiwa” (story of a soul)
          Tahun 1895, sepupu mereka, Marie Guerin, juga bergabung dengan mereka. Dan akhirnya Leoni, setelah gagal berkali-kali, berhasil menjadi biarawati dan mengubah namanya menjadi suster Fransiska Theresa. Terpenuhi sudah cita-cita ibu Theresia yang menginginkan kelima anaknya menjadi biarawati.

Akhir hidup Theresia.
          Sebagaimana Biarawati lainnya, Theresia melaksanakan tugas  dan doa hariannya dengan tekun. Theresia juga harus belajar mengatasi perasaan tersinggung, marah, sakit hati, iri, dan memerangi kebosanan dan bermacam-macam godaan, baik lahir maupun batin. Ia berjuang menempuh  “jalan sederhana” menuju kesucian, yaitu  secara konsekuen percaya akan mencintai Tuhan. Apapun yang dirasakan , Theresia selalu berusaha tersenyum dan bermuka jernih.
          Namun, karena penyakit paru-paru yang dideritanya semakin parah, pada tangga 30 september 1897, dalam usia 24 tahun, Theresia meningal dunia dan dimakamkan di Lisieux, Prancis.
Ia mewariskan catatan pribadi yang ditulis atas permintaan Ibu Agnes, kakak Theresia. Dalam buku itu, Theresia mengungkapkan bahwa kesucian dapat dicapai oleh siapa saja, betapapun rendah, hina, dan biasa orang itu. Caranya dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cinta kasih kepada Tuhan.
          Meskipun Theresia Lisiuex tidak pernah pergi  ketanah misi, bahkan hanya berbaring di tempat tidurnya karena sakit, ia diangkat menjadi santa pelindung para misionaris bersama santo Fransiskus Xaverius. Dalam segala keterbatasannya, Theresia berdoa bagi karya misi dan para misionaris dimanapun mereka berada. Selain itu, menjeelang kematiannya, ia sempat menuliskan keinginannya untuk menjadi misionaris dan itu menjadi keyakinan diri sebagaimana ia menyerahkan dirinya sendiri sepenuhnya kepada Tuhan. Berikut catatan Theresia tentang hal itu :

Aku merasa bahwa misiku baru akan dimulai, misiku untuk membuat orang lain mengasihi Allah seperti aku mengasihiNya, misiku untuk mengajarkan jiwa-jiwa cara-cara kecilku. Jika Allah menjawab permintaanku, waktuku disurga akan dihabiskan didunia ini hingga akhir dunia. Ya, aku ingin menjalani surgaku di atas bumi dengan melakukan kebaikan.”

4 komentar:

  1. Luar biasa! Seperti st Theresia, blog ini pun sebuah cara kecil yang berarti besar. Makasih atas posting2nya yg menarik. Berkah Dalem!

    BalasHapus
  2. Terpujilah Kristus...
    saya akan membagilan cerita ini ke umat wilayah kami yang mengambil St. Theresia de Lisieux sebagai Pelindung Wilayah kami yang baru dimekarkan.

    BalasHapus
  3. Saya melihat penyelenggaraan Tuhan dalam hidup keluarga Louis Martin. Dan saya yakin bahwa dalam keluarga kita masing-masing juga terjadi berkat penyelenggaraan Tuhan.

    BalasHapus
  4. Sumpah dari sang ibu, Zelie-Marie Guerin, bahwa akan mendidik seluruh anaknya menjadi biarawan biarawati terkabul, walah hanya 5 dari 9 anaknya yang hidup, yaitu : Marie, Pauline, Leonie, Celine dan Theresia. Terlihat dalam cerita ini ada penyelenggaraan Tuhan

    BalasHapus